Diduga Ada Pungli di Jembatan Waikaka, Puluhan Sopir Datangi DPRD Maluku

Ambon, Wartamaluku.com – Setiap mau lewat di tagih pungutan liar (pungli) , puluhan sopir truk dan sopir bis yang biasa beraktifitas melewati lokasi Jembatan Waikaka, Desa Tala , Kabupaten SBB, penghubung antar kota Masohi, kabupaten Maluku Tengah (Malteng) dan Kecamatan Kairatu, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) , mendatangi kantor DPRD Maluku di kawasan Karang Panjang, Jumat pagi (23/08/2019). Diduga, aktor yang menjadi pelaku pungli tersebut, oknum masyarakat sekitar jembatan dan diduga oknum Tentara BKO.

” Teman-teman lewat kalau malam itu, pungut biaya. Memang masyarakat yang menagih dari kita. Tetapi kita tidak tahu, di belakang itu ada siapa. Mungkin bapak-bapak bisa telusuri sendiri. Di jembatan Tala ada yang di tagih Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, bahkan ada yang pernah tagih sampai Rp500 ribu. Kalau di Tala, kejadian kemarin Tentara BKO Rp250 ribu itu, tentara BKO yang minta. Kalau Rp100 ribu sampai 200 ribu, itu masyarakat yang minta,” beber Toton, salah satu sopir truk pengangkut bahan bangunan dan sembako, yang biasanya melewati lokasi jembatan Tala, kepada sejumlah wartawan, di depan Kantor DPRD Maluku.

Selain itu, akuinya, kami datang kesini (kantor DPRD Maluku-red), hanya menyampaikan aspirasi. Sebutnya, yang pertama, kami minta penambahan armada ferry untuk lintas Hunimua- Masohi . Kedua, kalau kapal ferry yang sudah lama-lama itu harus diganti.

” Kalau memang pemerintah tidak bisa membantu kita untuk penambahan armada, berarti akses jalan Tala , jembatan dalam hal ini, harus difungsikan, supaya kita bisa lewat untuk mobilisasi material, bahan-bahan bangunan dan sembako untuk daerah Seram terutama di Masohi, Kobisonta, Bula dan Tehoru. Jembatan sudah enam bulan kondisi nya seperti itu,” ungkapnya.

Kemudian, dirinya mengakui, di Liang juga, ada hal-hal terjadi seperti itu. Lokasi pungli di jembatan Tala, bahkan di tempat penyeberangan ferry. Besaran pungli tergantung orang yang mau menyeberang . Kalau rasa terdesak, minta berapa saja pasti di kasih. Ada Rp20 ribu, Rp 50 ribu, ada yang lebih lagi. Kata dia, jadi kami sendiri setengah mati, bisa sampai berhari-hari di Liang, bahkan di Masohi juga berhari-hari.

” Jadi kami minta dari pemerintah, kalau bisa melihat kami punya aspirasi ini , tolong jua (dialek Ambon-red). Kami tidak bisa lari ke siapa-siapa lagi, hanya Bapak Ibu di DPRD sini,” pintanya.

Sekedar tahu, tingginya curah hujan 3 bulan belakangan ini, membuat volume air sungai naik dan menyebabkan banjir, terutama di sungai-sungai besar di kawasan Pulau Seram. Khususnya jembatan Waikaka, di Desa Tala, banjir mengikis struktur jembatan akibatnya jembatan miring dan jembatan nyaris patah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *