Lomba Festival Pangan Lokal B2SA Tingkat Provinsi Maluku

Ambon, Wartamaluku.com – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku bersama Tim penggerak PKK mengadakan Festival pangan Lokal Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) tingkat Provinsi, bertempat di Tribun Lapangan Merdeka Ambon, minggu ( 30/6/2019).

Kegiatan yang dibuka oleh Ketua tim peggerak PKK Provinsi Maluku Widya Pratiwi Murad dalam sambutannya mengatakan Maluku memiliki potensi ketersediaan lahan guna membudidayakan buah dan sayuran lokal yang secara geografis cocok dan mendukung pertumbuhan tanaman tersebut. Festival pangan lokal B2SA menjadi salah satu model promosi dalam mempercepat pemahaman masyarakat terhadap konsumsi pangan B2SA tersebut.

“Festival ini juga merupakan salah satu wujud kepedulian kaum ibu dalam upaya meningkatkan kreasi dan nilai tambah produk dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Tentunya diharapkan hasil festival ini akan dapat diaplikasikan secara parmanen dan massal pada seluruh masyarakat”, tuturnya.

Lanjutnya, dimensi kesadaran gizi dapat direalisasikan dalam aspek edukasi, pendidikan dan promosi. Sebagai salah satu contoh adalah festival pangan lokal B2SA ini guna mengangkat kembali citra makanan khas daerah yang selama ini kalah saing dengan makanan modern (Fast Food), oleh karena itu perlu dikembangkan menu B2SA yang berbasis pada kearifan lokal dimana menu yang diciptakan dapat dimodifikasi dengan resep makanan daerah sehingga tercipta menu yang baru, unik dan menarik yang tentu tidak kalah dengan makanan instan atau makanan siap saji.

“Melalui festival pangan lokal ini B2SA ini dapat kiranya dijadikan sebagai salah satu momentum bagi pemerintah daerah Maluku guna menstimulasi pusat – pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan, kecamatan hingga kabupaten/kota”, ungkapnya.

Disamping itu, jika dilihat dari kepentingan kemandirian pangan maka festival pangan lokal dengan inovasi pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan konsumen pada satu jenis pangan yang dapat menjaga keberlanjutan ketahanan pangan dalam dimensi pembangunan yang sangat luas melalui aspek sosial, ekonomi, politik maupun kelestarian lingkungan.

Selain itu, Festival pangan lokal B2SA juga memiliki nilai strategi dalam menciptakan lapangan kerja dengan mengurangi kesenjangan pertumbuhan ekonomi, mengurangi inflasi serta mengurangi tekanan terhadap tuntutan impor.

Semua ini dapat dilakukan melalui upaya optimalisasi potensi sumber daya lokal yang ada di daerah Maluku. Festival ini juga membutuhkan keragaan dan inovasi diverifikasi pangan pada setiap kabupaten/kota.

“Saya berharap kita semua semua tetap semangat, tekun berlatih dan terus menciptakan inovasi untuk membuat menu baru yang lebih kreatif dengan tetap mengedepankan kandungan/nilai gizi yang seimbang”. Harap Widya

Sesuai penilaian dewan juri berjumlah lima orang yang diketuai Pratiwi dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, kategori lunchbox B2SA juara kedua diraih wakil Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), juara ketiga Maluku Tenggara (Malra), harapan I Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), harapan II Kota Tual dan harapan III Kabupaten Kepulauan Aru. Untuk kategori produk olahan pangan lokal komersial berupa kudapan, kota Ambon juara satu, Kabupaten Malra juara kedua, juara ketiga SBB, harapan I Kabupaten Buru, harapan II KKT dan harapan III Kepulauan Aru.

“Kami bersyukur dan sukacita bisa meraih prestasi dua juara sekaligus. Ini berkat kerja keras seluruh pihak baik peserta, dinas pertanian maupun tim penggerak PKK. Tentu kita tak akan larut dalam euforia, karena nanti akan mewakili Maluku ke tingkat nasional. Tantangannya lebih berat karena semua provinsi. Momentum ini jadi motivasi bagi kita nantinya terus berinovasi, lahirkan produk olahan pangan komersial yang unik dan menarik serta paket B2SA,” ujar ketua tim penggerak PKK kota Ambon, Debby Louhenapessy.

Sementara menurut ketua Tim Penggerak PKK kabupaten MBD Rely Noach mengatakan dengan adanya festival pangan lokal ini kabupaten Maluku Barat Daya telah memberikan yang terbaik.

“Karena dengan Festival Pangan Lokal ini juga untuk memotivasi kami dari daerah agar lebih mengembangkan pangan lokal kami seperti jagung, kacang – kacangan bahkan ada yang lebih unik yakni buah koli yang bisa dijadikan sebagai gula merah, sirup dan lain – lain”, ungkapnya. (WM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *