Bahas PPDB, DPRD Maluku Rapat Bersama Dikbud

Ambon, Wartamaluku.com – Komisi IV DPRD Provinsi Maluku meminta Dinas Pendidikan dan Kebudyaan (Dikbud) Provinsi Maluku untuk membuat satu sistem baku dan transparan dalam proses penerimaan siswa baru. Hal ini dilakukan untuk menghindari komplain orang tua siswa di tiap musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di beberapa SMA yang dianggap favorit di Kota Ambon, agar tidak terjadi komplain dari orang tua yang anak-anaknya tidak diterima dalam seleksi masuk.

“Dibandingkan dengan tahun sebelumnya tahun ini sudah menurun. Kita di Komisi IV mengharapkan di tahun depan sudah tidak ada lagi.

Dan kita dalam rapat Komisi IV sudah rekomendasikan bahwa kedepan dalam penerimaan ada satu sistem yang baku yang sifatnya transparan, sehingga SMA – SMA yang unggulan tidak diserahkan lagi ke masing-masing sekolah tetapi tesnya diambil alih oleh dinas dan bisa dibentuk tim independent atau panitia penerimaan,” Demikian dikatakan Ketua Komisi IV DPRD Maluku, Samson Attapary, Senin (29/6/2020), usai melakukan rapat dengar pendapat dengan Dikbud Provinsi Maluku, Kepala SMA Siwalima, Kepala SMA 1 Ambon, Kepala SMA 2 Ambon, Kepala SMA 3 Ambon, Kepala SMA 13 Ambon di ruang paripurna.

Menurutnya, sistem baku yang dimaksudkan adalah sistem online yang mana selesai tes hasilnya langsung diumumkan secara serempak.

“Jadi sistem tesnya online dan pada saat itu juga nilai harus keluar secara serempak karena ini menutup bolong-bolong kecurigaan publik bahwa ada yang tidak transparan,” tandas Attapary.

Sementara itu Kadis Dikbud Provinsi Maluku, Insun Sangadji menambahkan, kedepan Dikbud akan berkoordinasi dengan DPRD Maluku untuk mengatur mekanisme penerimaan seperti apa sehingga tidak ada lagi kecurigaan dari masyarakat.

“Kedepan kita akan atur dengan DPRD supaya tidak ada lagi kecurigaan dari masyarakat. Kedepan kita akan lakukan test seperti di Perguruan Tinggi. Jadi satu anak satu kali tes bisa tiga pilihan, pilihan satu, dua, tiga tentunya sesuai dengan standar nilai yang sudah disepakati bersama,” jelas Insun, sembari menambahkan, mulai tahun ini dan seterusnya semua akan dibuat transparan sehingga tidak ada yang komentar lagi.

Diakuinya, sekarang ini tentunya ada ketidakpuasan anak-anak yang tidak diterima di SMA 1 atau SMA 2, itu hal biasa, dan mereka ( yang tidak lulus seleksi) sudah disarankan untuk ke sekolah dan melihat hasilnya dan ternyata mereka langsung diam karena memang nilainya ada yang hanya 20 atau 30.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *