Korban Kebakaran Ongkoliong Audiance Dengan DPRD Maluku

Ambon, Wartamaluku.com – Sebanyak 79 KK korban kebakaran Ongkoliong- Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau- Kota Ambon, melakukan audiance bersama Komisi III DPRD Maluku, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP) Kota Ambon, serta dinas PUPR Maluku.

Rapat tersebut dipimpin ketua komisi III Richard Rahakbauw di ruang paripurna DPRD Maluku.

Juru bicara masyarakat korban kebakaran Ongkoliong, Wais memperhatikan kepedulian terkait terkait nasib mereka korban kebakaran pada tanggal 29 Maret 2018 yang belum ada kepastian.

“Kita mengharapkan bantuan pemerintah Kota Ambon maupun pemerintah Provinsi Maluku terhadap kami masyarakat korban kebakaran. Sebab sudah rapat berulang kali tidak ada hasilnya,” ujarnya.

Kepala dinas PRKP Kota Ambon Rustam Simanjuntak mengatakan, jika melalui banyak penonton yang tidak berhasil berkaitan dengan kesepakatan dengan korban kebakaran maka diprogramkan untuk membangun agar Rusun yang akan dibangun tahun 2022 sebagai solusi terakhir.

Kita sudah lelah karena berbagai tawaran tidak disetujui melalui bicara pak Wais. Memang bagi yang punya sertifikat yakni ada 18 KK itu memang tidak akan mengganggu, tidak ada masalah. Sehingga diputuskan untuk masuk Rusun ” tandas Simanjuntak di ruang Paripurna, Kamis (18/11).

Dijelaskan, jika program pembangunan rumah susun (Rusun) bagi korban kebakaran di kawasan Ongkoliong-Batu Merah oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah masuk di Sistem Informasi Bangunan Baru (SIBARU) 2022.

“Sudah tidak ada masalah karena sudah masuk di SIBARU 2022. Semoga semua berjalan dengan baik” tukasnya.

Ketua Komisi III Richard Rahakbauw menegaskan, akan terus berjuang bersama dengan pemerintah agar yang telah diprogramkan mendapat tanggapan yang baik dari pemerintah pusat.

“Kita akan terus mengawal perjuangan pemerintah kota Ambon dan provinsi Maluku agar pembangunan Rusun di tahun 2022 bisa cepat terwujud” harapnya.

Sementara itu, Rovik Afifuddin justru mempertanyakan kebijakan pembangunan rumah susun yang dinilai tidak cocok dengan budaya orang Maluku.

Bahkan Afifuddin menjelaskan jika yang dipersoalkan bukan milik terkait namun karena ditempat tinggal ada usaha.

“Karena itu, perlu dibuat dengan bijak sebab permasalahan Ongkoliong bukan hanya terkait tempat tinggal tapi tempat usaha,” jelas Afifudin.

harapan berharap program rumah rusun dapat terjawab dengan baik. Jangan sampai hanya menghayal.

“Kita berharap pembangunan rusun bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Sebab ini rusun yang baru mau dibangun dan diterapkan. Jangan sampai ini hanya hayalan . Kita harus pastikan jangan mimpi,” pungkasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *