Ambon,Wartamalukumcom – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku terus mendorong penggunaan sistem pembayaran non tunai berbasis QRIS di kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon.
Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dhita Aditya Nugraha, kepada wartawan usai penyerahan Qris kepada Pelaku UMKM pada RTP Wainitu, RTP Air Salobar, dan RTP Amahusu di kantor Balai Kota Ambon, Senin (20/04/2026).
Menurut Dhita, kegiatan tersebut pihaknya bersama Pemerintah Kota Ambon dan Bank BTN secara simbolis menyerahkan QRIS kepada tiga UMKM. Langkah ini bertujuan untuk memberikan alternatif metode pembayaran yang lebih praktis bagi masyarakat dan pelaku usaha dengan harapan UMKM yang ada di Kota Ambon ini dapat menyediakan alternatif pembayaran non tunai berupa Qris.
“QRIS bukan untuk menggantikan pembayaran tunai, tetapi sebagai alternatif. Jadi masyarakat bisa memilih membayar secara tunai maupun non tunai. Dengan semakin banyak pilihan, transaksi akan menjadi lebih mudah dan nyaman,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran QRIS diharapkan dapat meningkatkan penjualan UMKM karena mempermudah proses transaksi. Selain itu, masyarakat juga tidak perlu khawatir jika tidak membawa uang tunai, karena pembayaran tetap dapat dilakukan melalui ponsel.
“Kalau dompet tertinggal, masih bisa pakai HP. Tapi kalau bawa uang tunai juga tetap bisa digunakan. Jadi semua aman dan fleksibel,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bank Indonesia Maluku akan terus melakukan sosialisasi penggunaan QRIS tidak hanya di Kota Ambon, tetapi juga di berbagai daerah lain di Provinsi Maluku. Pihaknya juga menargetkan peningkatan jumlah merchant serta pengguna baru QRIS di masyarakat.
Dalam upaya memperluas penggunaan, BI Maluku juga akan menyasar generasi muda, termasuk calon mahasiswa, melalui edukasi transaksi non tunai. Namun demikian, Dhita mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi penipuan.
“Masyarakat harus memastikan nama merchant yang muncul sesuai dengan nama toko. Jika berbeda, segera hentikan transaksi. Kenali dan laporkan jika ada hal mencurigakan,” tegasnya.
Dhita juga menambahkan, edukasi terkait keamanan transaksi akan terus dilakukan, baik kepada pengguna maupun pelaku usaha, mulai dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi.
Dengan langkah ini, Bank Indonesia berharap ekosistem pembayaran digital di Maluku semakin berkembang, semakin maju, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam bertransaksi. (WM/yk)
