Ambon,Wartamaluku.com – Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Maluku sepanjang 2026 tetap positif pada kisaran 5,45 hingga 5,85 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Maluku, Rakhmat Pratama, mengatakan proyeksi tersebut didukung sejumlah faktor, termasuk peningkatan aktivitas UMKM, harga komoditas perikanan yang masih relatif tinggi, optimalisasi belanja pemerintah, serta realisasi sejumlah proyek strategis di Maluku.
Hal tersebut disampaikan Rakhmat dalam pemaparan perkembangan ekonomi Maluku, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus 2026, ekonomi Maluku pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,31 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,22 persen.
“Capaian ini cukup membanggakan karena di Triwulan II ini kita tumbuh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 5,22 persen year on year,” ujar Rakhmat.
Dari sisi lapangan usaha, struktur pertumbuhan ekonomi Maluku masih ditopang sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai kontributor utama. Selanjutnya diikuti administrasi pemerintahan, perdagangan besar dan eceran, konstruksi, serta industri pengolahan.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga, kemudian pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi.
Rakhmat juga menyoroti pertumbuhan industri pengolahan yang menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan cukup tinggi. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan aktivitas perekonomian Maluku tetap berjalan di tengah adanya penyesuaian transfer pemerintah pusat ke daerah.
“Walaupun dana transfer dari pemerintah daerah mengalami pemotongan, tetapi ternyata di Triwulan II kemarin dana-dana dari pemerintah pusat yang masuk ke Provinsi Maluku relatif cukup besar, sehingga turut menunjang investasi di Provinsi Maluku,” jelasnya.
Sejumlah proyek nasional yang berjalan di Maluku turut mendorong aktivitas ekonomi, di antaranya pembangunan Koperasi Merah Putih, sejumlah proyek di Maluku Barat Daya (MBD), serta pengembangan beberapa batalyon. Belanja pemerintah pusat di Maluku yang meningkat turut memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, BI melihat adanya tren pemulihan nilai tukar petani (NTP). Kondisi tersebut didukung oleh perbaikan harga sejumlah komoditas global, termasuk ikan cakalang, serta peningkatan volume produksi perikanan.
“Kita melihat ada tren pemulihan yang didukung oleh perbaikan harga komoditas global seperti ikan cakalang serta tren volume produksi perikanan yang relatif tumbuh,” kata Rakhmat.
Ia menambahkan, tren positif juga terlihat dari kredit pertanian, produksi perikanan dan harga ikan. Kondisi tersebut diharapkan terus menopang kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi Maluku.
Sementara pada sektor perdagangan, transportasi dan akomodasi, BI mencatat adanya perbaikan yang tercermin dari meningkatnya penyaluran kredit perdagangan, kinerja bongkar muat peti kemas, serta konsumsi listrik.
Namun, kondisi berbeda terlihat pada sektor pariwisata dan perhotelan. BI mencatat adanya indikasi pelemahan yang ditandai dengan penurunan jumlah tamu hotel berbintang dan semakin pendeknya rata-rata lama menginap.
Menurut Rakhmat, salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah tingginya harga minyak dunia yang berdampak terhadap biaya transportasi. Kondisi itu berpotensi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Meski optimistis ekonomi Maluku tetap tumbuh positif hingga akhir 2026, BI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Risiko tersebut meliputi ketidakpastian global yang masih berlanjut, nilai tukar yang berfluktuasi, harga BBM yang relatif tinggi, dampak kenaikan biaya distribusi, serta potensi peningkatan inflasi.
Di sisi lain, sejumlah faktor diperkirakan tetap menjadi penopang ekonomi Maluku hingga akhir tahun, seperti peningkatan aktivitas UMKM, harga komoditas perikanan yang masih relatif tinggi, program pengembangan klaster dan UMKM, optimalisasi realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah, serta pelaksanaan berbagai proyek strategis.
“Kalau dari hasil proyeksi kami, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Maluku 2026 itu berkisar antara 5,45 sampai 5,85 persen yoy,” pungkas Rakhmat. (WM/yk)
