Tiga Pesan Michael Wattimena untuk Calon Wisudawan Unpatti: Bermimpi Besar, Ingat Akar, dan Bermakna

Ambon, Wartamaluku.com – Alumni Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Dr. Michael Wattimena, SE, SH, MM, mengajak para calon wisudawan Unpatti untuk berani bermimpi besar, tidak takut menghadapi kegagalan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Pesan tersebut disampaikan Wattimena saat berbagi pengalaman dan motivasi kepada calon wisudawan Universitas Pattimura dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Unpati Ambon, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Michael Wattimena yang sering disapa BMW ini mengatakan generasi muda Maluku memiliki potensi besar untuk meraih masa depan yang lebih baik. Menurutnya, Maluku dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik di sektor kelautan, perikanan, pertanian, pariwisata, energi maupun budaya.

“Katong ini sudah dimanjakan oleh alam. Katong ke laut, dapat ikan. Katong ke darat, ada hutan. Apa saja mudah untuk diambil. Jadi kalau orang bilang Maluku itu miskin, beta juga bingung, miskin apanya?” ungkapnya.

Dikatakan, kekayaan sumber daya alam tersebut harus menjadi peluang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menciptakan kesejahteraan.

Wattimena menyoroti besarnya potensi kelautan Maluku. Ia menyebutkan, sekitar 7,4 persen wilayah Maluku merupakan daratan, sementara sebagian besar lainnya adalah wilayah laut. Kondisi tersebut menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu kekuatan utama pembangunan daerah.

Karena itu, ia berharap lulusan Unpatti, terutama dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, mampu mengambil peran strategis dalam mengembangkan potensi daerah.
Selain sektor perikanan dan kelautan, Wattimena juga mendorong para lulusan untuk mengembangkan kompetensi di bidang pertanian, pariwisata, energi dan budaya.

Pada kesempatan tersebut, ia turut menyinggung peluang besar yang akan terbuka melalui pengembangan Proyek Strategis Nasional Blok Masela.

Menurutnya, setelah menunggu selama 28 tahun, masyarakat Maluku, khususnya warga Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya (MBD), kini memiliki harapan besar terhadap pengembangan proyek gas yakni blok masela.

Wattimena menyebutkan, proyek Blok Masela memiliki nilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS atau hampir Rp400 triliun. Karena itu, ia mempertanyakan kesiapan generasi muda Maluku untuk mengambil bagian dalam proyek tersebut.

“Pertanyaan kritisnya adalah, apakah Blok Masela dengan total investasi 20,9 miliar dolar AS ini membuat masyarakat dan anak-anak Maluku hanya menjadi penonton, ataukah kita ikut bermain dalam kompetisi tersebut?” tegasnya.

Ia mengingatkan keterlibatan putra-putri Maluku dalam proyek tersebut harus dipersiapkan melalui peningkatan pendidikan, keterampilan dan kompetensi sesuai kebutuhan industri minyak dan gas bumi.

Wattimena juga mengingatkan persiapan sumber daya manusia lokal sebenarnya telah menjadi perhatian sejak lama, termasuk ketika Presiden Joko Widodo meresmikan Jembatan Merah Putih pada 2016. Saat itu, perguruan tinggi seperti Unpatti dan Politeknik diharapkan mempersiapkan generasi muda Maluku agar dapat terlibat dalam peluang kerja Blok Masela.

Di hadapan para calon wisudawan, Wattimena menyampaikan tiga pesan penting sebagai bekal memasuki kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Pertama, berani memiliki mimpi besar.
Ia meminta para lulusan agar tidak membatasi masa depan hanya karena kondisi kehidupan saat ini. Menurutnya, latar belakang keluarga maupun asal daerah bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan memperjuangkan cita-cita.
Ia bahkan menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang berprofesi sebagai guru.

“Jangan membatasi masa depan hanya karena keadaan hari ini. Berani menetapkan tujuan dan mulai melangkah. Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan bukan akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses menuju keberhasilan,” pesannya.

Kedua, jangan pernah melupakan akar dan asal-usul.

Wattimena mengingatkan para wisudawan agar tetap menghormati orang tua, menjaga nama baik almamater serta tidak melupakan tanah kelahiran, sekalipun kelak berhasil meraih kesuksesan dan berkarier di luar Maluku.
Menurutnya, keberhasilan yang diraih seseorang tidak terlepas dari pengorbanan dan doa orang tua.

“Setinggi apa pun kita terbang, ingat dari mana kita berasal. Apa yang kita raih hari ini merupakan bagian dari pengorbanan dan doa orang tua. Jangan pernah melupakan sejarah,” ujarnya.

Ketiga, jangan hanya menjadi orang sukses, tetapi jadilah pribadi yang bermakna.

Karena menurutnya, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jabatan, kekayaan maupun pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada keluarga, masyarakat dan daerah asal.

“Don’t just be successful, be meaningful. Jangan hanya sukses, tetapi kita harus juga bermakna. Percuma sukses kalau kita tidak bermakna bagi keluarga, sesama dan daerah,” tegasnya.

Untuk memperkuat pesannya, Wattimena mengutip ungkapan Benazir Bhutto tentang sebuah kapal yang terlihat indah ketika bersandar di dermaga, tetapi sejatinya kapal dibuat bukan untuk terus berada di dermaga, melainkan untuk menghadapi gelombang dan membelah lautan.

Ia mengibaratkan para wisudawan seperti kapal yang harus berani keluar menghadapi tantangan kehidupan serta memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri, masyarakat, daerah, bangsa dan negara.

Dalam kesempatan tersebut, Wattimena juga membagikan pengalamannya ketika terlibat dalam perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP) Ambon. Ia menceritakan bagaimana dirinya yang saat itu menjabat sebagai pimpinan Komisi V DPR RI turut mengikuti proses pembangunan hingga peresmian jembatan oleh Presiden Joko Widodo pada 2016.

Bahkan, ia mengungkapkan pada waktu pengresmian JMP dirinya dipanggil langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk naik ke podium.
“saya bukan di panggil oleh MC tetapi saya dipanggil langsung oleh Presiden Joko Widodo”, ungkapnya

Dari pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa putra-putri daerah dari Indonesia Timur tidak perlu merasa rendah diri ketika berhadapan dengan orang-orang dari daerah maupun perguruan tinggi di wilayah lain.

“Jangan pernah kita ragu. Jangan karena kita berasal dari universitas di kawasan Indonesia Timur, lalu merasa takut atau minder dengan teman-teman dari universitas di kawasan Barat Indonesia. Kita juga punya kemampuan dan kualitas untuk bersaing,” katanya.
Selain pendidikan formal, Wattimena juga mendorong para mahasiswa agar aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan ekstrakurikuler di luar kampus.

Ia menceritakan pengalamannya ketika aktif dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan berinteraksi dengan berbagai organisasi kemahasiswaan lainnya yang tergabung dalam kelompok Cipayung.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi telah membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, membangun jaringan serta keberanian untuk berkompetisi di tingkat nasional.
Ia menilai jaringan dan relasi yang dibangun melalui organisasi menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan karier seseorang.

Wattimena kemudian mencontohkan perjalanan kariernya hingga pmenjadi anggota DPR RI dari Papua Barat, pimpinan komisi, Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Komisaris Pertamina International Shipping (PIS).
Dikatakan, pengalaman tersebut, menunjukkan pendidikan, pengalaman organisasi, kemampuan membangun komunikasi dan jaringan merupakan bekal penting untuk membuka peluang di masa depan.

Wattimena berharap para calon wisudawan Unpatti tidak hanya menjadikan gelar akademik sebagai kebanggaan pribadi, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk membangun masyarakat dan daerah.
Ia mengajak generasi muda Maluku untuk tampil percaya diri, meningkatkan kualitas diri, memanfaatkan peluang pembangunan serta mengambil peran dalam berbagai sektor strategis. (WM/yk)

Pos terkait