Ambon,Wartamaluku.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ambon mengevaluasi penerapan metode Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) dalam pembelajaran matematika di sejumlah sekolah. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan kemampuan berhitung cepat siswa sekaligus mengidentifikasi kendala penerapannya di sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, F. Tasso, mengatakan kemampuan berhitung cepat merupakan salah satu keterampilan dasar yang penting dikuasai siswa. Namun, menurutnya, peningkatan kemampuan berhitung tidak hanya dapat dilakukan melalui metode Gasing, tetapi juga dengan metode lain, seperti sempoa.
“Kalau kita lihat anak-anak yang berhitung dengan tangan bisa cepat. Itu bukan hanya karena metode Gasing, karena sempoa juga punya metode lain,” kata Tasso kepada media di Ambon, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi dan pemeriksaan pengawas, masih terdapat perbedaan dalam pelaksanaan metode Gasing di sekolah. Sebagian satuan pendidikan telah menerapkannya, sementara sekolah lainnya belum menjalankan metode tersebut secara optimal.
Salah satu kendala yang ditemukan, lanjut Tasso, adalah perbedaan pendekatan antara metode Gasing dan kurikulum yang diterapkan di sekolah. Kondisi tersebut membuat penerapan metode Gasing belum sepenuhnya terintegrasi dengan proses pembelajaran reguler.
“Ketika diperiksa oleh pengawas, ada yang sudah menerapkan, tetapi ada juga yang tidak melaksanakan di sekolah. Salah satu alasannya karena kurikulum yang diajarkan dengan Gasing berbeda metodenya, sehingga tidak nyambung,” jelasnya.
Meski demikian, Tasso menegaskan bahwa pembiasaan berhitung cepat tetap menjadi hal penting dalam proses pendidikan. Kemampuan tersebut tidak hanya menunjang pembelajaran matematika, tetapi juga dibutuhkan siswa ketika menghadapi berbagai jenis tes yang memiliki keterbatasan waktu, termasuk tes psikologi.
Menurutnya, siswa yang terbiasa melakukan perhitungan secara cepat akan lebih mudah menyelesaikan soal-soal hitungan dalam waktu yang tersedia.
“Kalau kita tidak terbiasa berhitung, satu lembar saja tidak bisa selesai. Tetapi kalau orang terbiasa, bisa satu setengah halaman,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguasaan kemampuan dasar matematika, seperti penjumlahan, perkalian, dan operasi hitung sederhana. Kemampuan tersebut diharapkan dapat dikuasai siswa tanpa harus membutuhkan waktu lama untuk mengingat atau menghitung kembali.
“Kalau ditanya delapan kali tujuh, jangan lagi berpikir lama. Angka-angka satu digit seperti itu harus sudah di luar kepala,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tasso mengatakan Pemerintah Kota Ambon akan mempertimbangkan penggunaan metode pembelajaran berhitung lainnya yang dinilai sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong penerapan metode pembelajaran yang lebih efektif, sehingga kemampuan berhitung cepat siswa dapat meningkat tanpa mengabaikan kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku.
“Pemerintah kota akan mencoba metode yang lain sesuai kebutuhan, sehingga metode yang digunakan benar-benar efektif,” tandasnya (WM/yk)





