Michael Wattimena Berbagi Pengalaman  Kepada Calon Wisudawan Unpatti: Wisuda Bukan Akhir, tetapi Awal Pembuktian Diri

Ambon, Wartamaluku.com – Alumni Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Dr. Michael Wattimena, SE, SH, MM, mengingatkan para calon wisudawan agar menjadikan momentum wisuda sebagai awal pembuktian diri, bukan sebagai akhir dari perjalanan pendidikan dan pengembangan karier.
Pesan tersebut disampaikan Wattimena saat berbagi pengalaman dan motivasi kepada calon wisudawan Universitas Pattimura, Sabtu (31/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Wattimena menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari Negeri Itawaka, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Ia mengungkapkan, setelah menyelesaikan pendidikan di Unpatti pada Oktober 1993, dirinya merantau ke Jakarta pada Desember 1993 untuk melanjutkan perjalanan pendidikan dan karier.

Ia mengaku, ketika pertama kali berada di Jakarta pada 1994, sejumlah orang bahkan tidak percaya bahwa dirinya berasal dari Ambon.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan baginya untuk mengingatkan generasi muda Maluku agar tidak pernah merasa minder ketika berada di tengah lingkungan yang penuh persaingan dan dinamika.
Jangan pernah katong merasa minder apabila berada di sebuah kota yang penuh dengan dinamika, karena katong juga bisa menghadirkan dinamika dimaksud,” ungkapnya.

Wattimena menegaskan, keberhasilan yang diraihnya saat ini bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang, perjuangan, pendidikan, serta kerja keras.
Saat ini, selain berbagai pengalaman dalam dunia politik dan pemerintahan, dirinya juga dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pattimura.

Kepada para calon wisudawan, ia menekankan bahwa ijazah bukanlah garis akhir dari perjuangan seseorang. Sebaliknya, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus diterjemahkan menjadi karya, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan seseorang harus dibangun melalui tiga fondasi utama, yakni ilmu pengetahuan, karakter, dan pengabdian.

Ia kemudian membagikan pengalamannya ketika terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Papua Barat pada 2009 dan ditempatkan di Komisi V DPR RI pada 2010 yang membidangi infrastruktur.
Dalam tugas tersebut, Wattimena mengungkapkan keterlibatannya dalam perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih (JMP), yang kini menjadi salah satu ikon Kota Ambon.

Mantan ketua Komisi V DPR RI ini menjelaskan, pada 2010, Gubernur Maluku saat itu, Karel Ralahalu, bersama Kepala Balai Jalan dan Jembatan, Jefry Pattiasina, menemui Komisi V DPR RI untuk memperjuangkan pembangunan jembatan tersebut.

Melalui pembahasan anggaran tahun 2010, pembangunan Jembatan Merah Putih akhirnya mendapat persetujuan dengan skema anggaran tahun jamak atau multiyears.

“Kalau hari ini Ambon punya ikon yang namanya Jembatan Merah Putih, dan adik-adik dengan mudah ke kampus melewati JMP, tidak seperti kami dulu yang harus menggunakan perahu atau feri, maka JMP ini juga merupakan bagian dari perjuangan kami,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun secara politik dirinya mewakili daerah pemilihan Papua Barat, secara biologis dan emosional dirinya tetap memiliki ikatan kuat dengan Maluku sebagai tanah kelahirannya.
Karena itu, berbagai perjuangan pembangunan di Maluku selalu menjadi bagian dari perhatian dan pengabdiannya.

Lebih lanjut, Wattimena mengingatkan para calon wisudawan agar mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Menurutnya, ada tiga sikap utama yang harus dimiliki generasi muda, yakni tangguh, mampu beradaptasi, dan terus meningkatkan kapasitas diri.
Ia menilai, memasuki dunia kerja bukan perkara mudah karena setiap orang akan berhadapan dengan persaingan dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi.

Wattimena juga mendorong para lulusan yang masih memiliki kesempatan agar tidak berhenti melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ia mencontohkan perjalanan akademiknya sendiri yang setelah merantau ke Jakarta pada 1994 melanjutkan pendidikan S2, kemudian menempuh pendidikan S3 di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI.
Tidak hanya itu, ia juga mengambil pendidikan S1 Ilmu Hukum di Universitas Bung Karno karena menyadari pentingnya memiliki latar belakang pendidikan yang beragam untuk memperluas peluang dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan profesional.

Menurutnya, peningkatan pendidikan dan kompetensi menjadi investasi penting agar seseorang memiliki kesiapan ketika menghadapi peluang maupun persaingan di dunia kerja.
Pertama, menjaga integritas dan etos kerja. Kedua, berani keluar dari zona nyaman. Ketiga, menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat.

Putra kelahiran Itawaka Saparua ini juga membagikan pengalamannya ketika sempat mempertimbangkan melanjutkan pendidikan S2 Hukum setelah menempuh S1 Hukum. Namun, setelah menjalani empat semester, ia memutuskan tidak melanjutkan karena ingin memastikan setiap gelar akademik diperoleh melalui proses pendidikan yang sungguh-sungguh.

“Beta tidak mau hanya mendapatkan kertas tanpa mengikuti proses kuliah dengan baik. Karena beta tidak mau pada saat mendapatkan kertas, ada embel-embel yang kurang menyenangkan,” tegasnya.

Wattimena berharap para calon wisudawan Universitas Pattimura tidak hanya berorientasi pada gelar akademik, tetapi juga mampu membuktikan kualitas diri melalui integritas, kerja keras, kompetensi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dengan pendidikan, karakter, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar, generasi muda Maluku memiliki peluang yang sama untuk bersaing. (WM/yk)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *