MPLS Ramah SMPN 19 Ambon Berakhir, 285 Siswa dibekali Etika Digital, Bangun Karakter dan Deklarasi Anti Bullying

Ambon,Wartamaluku.com – Sebanyak 285 siswa baru SMP Negeri 19 Ambon mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026 yang dikemas secara bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan guna membentuk peserta didik yang berkarakter dan berprestasi.

Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, menjelaskan bahwa pelaksanaan MPLS selama lima hari mengacu pada petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menekankan pendekatan ramah anak serta menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi peserta didik.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan MPLS dirancang agar siswa merasa nyaman dan bahagia saat beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru.

“Yang paling ditekankan dalam MPLS Ramah adalah bagaimana siswa mengikuti kegiatan yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan sehingga setelah selesai mengikuti MPLS mereka menjadi siswa yang berkarakter dan berprestasi,” ujar Gaspersz kepada wartawan, Jumat (17/7/2026).

Dikatakan, selama lima hari pelaksanaan, para siswa dibekali dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang diisi setiap hari sebagai bagian dari proses pembelajaran dan refleksi. Kegiatan diawali dengan program Pagi Ceria yang meliputi senam pagi dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan berbagai materi yang disajikan secara kreatif dan interaktif.

“Materi yang diberikan mencakup Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penerapan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun), etika bersosial media, hingga budaya sekolah aman dan nyaman”, ujarnya

Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah etika bermedia sosial yang dikemas dalam bentuk talk show dengan menghadirkan moderator dan narasumber sehingga lebih menarik bagi siswa.

Menurut Gaspersz, pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibanding penyampaian materi secara konvensional karena mampu meningkatkan partisipasi siswa serta memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perilaku yang tepat di media sosial.

“Anak-anak perlu memahami bahwa ketika menggunakan Facebook, Instagram, WhatsApp maupun platform lainnya, mereka harus memiliki etika, menghargai orang lain, dan memahami batasan dalam berkomunikasi di ruang digital,” katanya.

Selain itu, siswa juga mendapatkan materi tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang merupakan kebijakan terbaru pengganti Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (TPPK). Dalam sistem baru tersebut, penanganan kasus kekerasan di lingkungan sekolah dilakukan melalui kelompok kerja (Pokja) yang berada di bawah koordinasi dinas terkait.

Untuk memperkuat komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, SMP Negeri 19 Ambon juga menggelar Deklarasi Sekolah Anti-Bullying yang ditandatangani oleh kepala sekolah, dewan guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan seluruh siswa baru.

Dalam pelaksanaannya, sekolah turut menggandeng sejumlah mitra, di antaranya Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) serta Rumah Generasi, lembaga yang selama ini menjadi mitra Dinas Pendidikan dalam pendampingan sekolah inklusi. Kerja sama tersebut dilakukan mengingat SMP Negeri 19 Ambon merupakan salah satu sekolah inklusi di Kota Ambon.

Pada hari penutupan, para siswa menampilkan presentasi dan hasil pembelajaran yang mereka peroleh selama mengikuti MPLS sejak Senin hingga Kamis.

Gaspersz berharap seluruh materi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk membangun karakter positif, menghargai sesama serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.

“Pemerintah saat ini lebih mengedepankan pembentukan karakter. Karena itu, seluruh kegiatan MPLS dikemas agar bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan sehingga memuliakan peserta didik serta membentuk generasi yang saling menghargai dan bebas dari bullying,” pungkasnya. (WM/yk)

Pos terkait