Ambon, Wartamaluku.com — Tidak hanya di mimbar gereja untuk pesan keselamatan rohani, tetapi juga tentang kesejahteraan finansial umat. Karena itu, OJK Provinsi Maluku berinovasi dengan menggandeng para pendeta sebagai Duta Literasi Keuangan dengan mengajak umat kristiani untuk belajar mengelola keuangan secara cerdas dan bertanggung jawab.
Bertempat di lantai lima Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku, puluhan pendeta dari berbagai klasis di Pulau Ambon dan Kepulauan Lease duduk rapi, sambil menyimak paparan tentang pengelolaan keuangan sederhana.
Guna mengelola keuangan, salah satu langkah nyata diwujudkan melalui sinergi dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Penggerak Duta Literasi Keuangan bagi Pendeta.
Tak lagi soal tafsir Alkitab, kali ini para rohaniwan diajak mendalami “kitab” baru yakni literasi keuangan.
Kegiatan Training of Trainers (ToT) Penggerak Duta Literasi Keuangan ini merupakan sebuah langkah yang tak sekadar seremonial, melainkan bagian dari gerakan nasional untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas finansial, sesuai amanat Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025.
“Pendeta punya peran strategis untuk membimbing jemaat agar bijak mengelola keuangan dan terhindar dari aktivitas keuangan yang merugikan,” ujar Kepala OJK Provinsi Maluku, Andi Muhammad Yusuf, saat membuka kegiatan.
Andi tak sekadar memberi sambutan, tapi juga membuka wawasan baru tentang peran pemuka agama di tengah maraknya praktik keuangan ilegal.
Ia memperkenalkan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) pusat layanan terpadu yang dibentuk OJK bersama Satgas PASTI untuk menerima laporan dan mempercepat penanganan penipuan di sektor jasa keuangan.
“Kalau menemukan penipuan atau penawaran investasi yang mencurigakan bisa laporkan ke IASC di iasc.ojk.go.id atau hubungi layanan konsumen OJK 157,” pesannya tegas.
Andy juga menekankan prinsip “2L” Legal dan Logis sebagai kunci berinvestasi aman. “Pastikan produknya punya izin resmi dari OJK (legal) dan jangan tergiur keuntungan tidak masuk akal (logis),” tambahnya.
Bagi banyak pendeta yang hadir, materi ini terasa relevan. Di tengah meningkatnya penetrasi teknologi dan digitalisasi keuangan, tak sedikit jemaat yang justru terjebak investasi bodong, arisan online, hingga pinjaman ilegal. Gereja sebagai lembaga sosial dan spiritual pun diharapkan menjadi benteng edukasi keuangan yang menyejukkan.
Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Elifas Tomix Maspaitella, menyambut baik kolaborasi ini.
“Kerja sama OJK Maluku dan Sinode GPM sangat bermanfaat. Jemaat bisa belajar mengelola keuangan sekaligus memahami bahaya aktivitas keuangan ilegal. Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi gerakan berkelanjutan,” ujarnya dengan senyum optimis.
ToT yang berlangsung dalam suasana hangat ini menghadirkan pemateri dari OJK, Sinode GPM, dan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK). Para peserta diajak berdialog dan berlatih langsung mengenali ciri-ciri investasi bodong, mengatur keuangan rumah tangga, hingga melindungi hak konsumen di sektor jasa keuangan.
Menurut data OJK, tingkat literasi keuangan nasional terus meningkat, mencapai 66,46% pada 2025, naik dari 65,43% pada tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi mencerminkan kerja keras bersama, termasuk melalui jalur komunitas keagamaan seperti GPM.
Di akhir sesi, semangat para pendeta tampak menyala. Mereka tak hanya pulang membawa modul pelatihan, tetapi juga misi baru menjadi penggerak duta literasi keuangan di jemaat masing-masing.
Mereka percaya, edukasi finansial bukan sekadar urusan duniawi, tetapi bagian dari tanggung jawab spiritual untuk menuntun umat hidup sejahtera dan bijaksana.
Dari ruang pelatihan itu, gema literasi keuangan kini mulai bergema dari mimbar-mimbar gereja di Maluku menandai babak baru bahwa edukasi finansial bisa berjalan seiring dengan pelayanan iman. (WM/yani).





