Pasar Saham Bergejolak, IHSG Terkoreksi Tajam di Tengah Konflik Global

Jakarta,Wartamaluku.com – Pasar saham domestik mengalami pergerakan dinamis sepanjang Maret 2026 seiring meningkatnya volatilitas global yang dipicu konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini turut memengaruhi kinerja pasar modal Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami koreksi signifikan.

IHSG ditutup pada level 7.048,22 pada akhir Maret 2026, terkoreksi sebesar 14,42 persen secara month to month (mtm) dan 18,49 persen secara year to date (ytd). Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang juga dirasakan oleh bursa global dan regional. Demikian penjelasan rilis yang di Terima media ini Selasa 7/4/2026.

Pergerakan ini terjadi sepanjang Maret 2026 di pasar modal Indonesia, sebagai bagian dari dinamika pasar keuangan global.

Pelaku pasar domestik dan investor asing menjadi pihak utama yang memengaruhi pergerakan pasar, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus melakukan pengawasan dan penegakan aturan.

Peningkatan volatilitas dipicu oleh ketidakpastian global, khususnya konflik geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong investor mengambil sikap wait-and-see. Hal ini berdampak pada menurunnya aktivitas transaksi serta meningkatnya persepsi risiko di pasar keuangan.

Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tercatat sebesar Rp20,66 triliun, menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar Rp25,62 triliun.

Sementara itu, likuiditas pasar masih terjaga dengan rata-rata bid-ask spread sebesar 1,55 kali.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp23,34 triliun pada Maret 2026, berbalik dari posisi net buy Rp0,36 triliun pada Februari. Aksi jual ini dipicu transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham emiten.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun ke level 433,16 atau terkoreksi 2,03 persen mtm. Yield Surat Berharga Negara (SBN) juga meningkat akibat kenaikan persepsi risiko global, dengan investor nonresiden mencatatkan net sell Rp21,80 triliun.

Sementara itu, industri pengelolaan investasi menunjukkan kinerja moderat. Nilai Asset Under Management (AUM) tercatat Rp1.084,10 triliun, turun 1,62 persen mtm namun masih tumbuh 3,97 persen ytd. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga terkoreksi 2,51 persen mtm menjadi Rp695,71 triliun, namun tetap tumbuh positif secara tahunan.

Jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan tambahan 1,78 juta investor baru selama Maret 2026, sehingga total investor mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51 persen secara ytd.

Dari sisi pembiayaan, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp51,96 triliun hingga Maret 2026, terdiri dari 1 IPO, 6 penawaran umum efek utang/sukuk, dan 36 penawaran berkelanjutan.

Selain itu, terdapat 53 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp25,79 triliun.

Penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga menunjukkan perkembangan, dengan tambahan 14 efek baru dan total dana terhimpun mencapai Rp1,90 triliun.

Karena itu, OJK terus memperkuat penegakan hukum di sektor pasar modal, derivatif keuangan, dan bursa karbon. Pada Maret 2026, OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp8,57 miliar kepada berbagai pihak, termasuk manajer investasi, emiten, dan akuntan publik.

Selain itu, OJK juga mengenakan denda Rp15,9 miliar kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran manipulasi pasar. Sepanjang 2026, total sanksi denda yang telah dijatuhkan mencapai Rp62,78 miliar kepada 68 pihak.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan integritas dan kredibilitas pasar modal Indonesia di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *