Owner Tenun Ikat Mawar, Lusi Kormasela
Ambon, Wartamaluku.com – UMKM Tenun Ikat Mawar terus berupaya mengangkat kekayaan budaya Maluku melalui pengembangan berbagai motif khas dari kabupaten/kota di Provinsi Maluku.
Tidak hanya berfokus pada motif Tanimbar, perajin tenun tetapi juga menggali beragam motif yang menggambarkan identitas budaya Maluku untuk dituangkan ke dalam kain tenun.
Owner Tenun Ikat Mawar, Lusi Kormasela, mengatakan upaya tersebut dilakukan tak lain adalah untuk menjadikan kain tenun tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan cerita budaya Maluku.
Hal itu disampaikan Lusi saat ditemui di sela-sela kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh dan Berdaya Saing” di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC).
Untuk diketahui, kegiatan KKI ini menghadirkan 550 UMKM terbaik Indonesia salah satunya berasal dari UMKM binaan dari Bank Indonesia Provinsi Maluku.
Dijelaskan, UMKM Tenun Ikat Mawar ini selalu berupaya mencari motif dari 11 kabupaten/kota.
“Kami kan di Ambon, jadi kami berusaha mencari beberapa motif di daerah-daerah di Maluku. Ada motif dari MBD, Pulau Seram, Tual dan daerah lainnya. Jadi kami tidak hanya berfokus pada motif Tanimbar,” kata Lusi.
Lusi menjelaskan setiap kabupaten/kota di Maluku memiliki karakter budaya yang berbeda. Kekayaan tersebut kemudian menjadi inspirasi dalam menciptakan motif yang dapat merepresentasikan identitas masing-masing daerah.
Ada beberapa motif yang dikembangkan antara lain motif embal dari Kota Tual, motif patung dari Maluku Barat Daya (MBD), serta berbagai unsur budaya lainnya.
“Embal kan makanan khas daerah Tual, jadi kami angkat embal menjadi salah satu motif khas dari Kota Tual,” jelasnya.
Sementara untuk MBD, Tenun Ikat Mawar mengangkat motif patung yang dinilai memiliki keterkaitan erat dengan karakter budaya masyarakat setempat. Selain itu, ada juga motif yang dikenal dengan sebutan mulu buaya, yang menurut Lusi menjadi salah satu motif yang banyak ditemukan dalam kain tenun MBD.
Selain itu, Tanimbar, Tual, MBD ada juga unsur budaya dari wilayah lain terus digali. Misalnya, dari Seram, terdapat motif Seram Kakehen, sementara dari Maluku Tenggara diangkat motif embal. Untuk Tanimbar, Tenun Ikat Mawar memiliki sekitar 49 motif yakni motif Lelemuku diangkat sebagai inspirasi dengan makna bunga anggrek.
Sementara dari Kota Ambon, unsur budaya seperti tahuri, ukulele, gitar serta simbol Siwalima menjadi bagian dari kekayaan yang dapat diterjemahkan ke dalam motif kain.
Menurut Lusi, pengembangan motif menjadi bagian penting dalam proses produksi karena setiap motif memiliki cerita dan makna tersendiri.
“Kalau kita membuat kain, kita harus tahu dulu motifnya apa dan maknanya apa. Jadi kain yang dihasilkan bukan hanya bagus secara tampilan, tetapi ada cerita dan identitas daerah di dalamnya,” ujarnya.
Menurutnya, proses pembuatan tenun ikat diawali dengan menentukan motif. Selanjutnya benang diikat mengikuti pola, kemudian diberikan pewarna alami dan dijemur. Setelah proses pewarnaan selesai, benang disiapkan menggunakan alat papindahan untuk mengatur pola hingga membentuk desain kain.
“Awalnya kita siapkan motif. Jadi dari motif itu diikat kemudian diwarnai dengan pewarna alam dan dijemur. Setelah itu masuk ke pewarnaan dasar benang kain. Setelah selesai, benang dan motif siap diatur pada alat papindahan untuk desain kain,” katanya.
Dalam sebulan, Tenun Ikat Mawar mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 lembar kain, tergantung tingkat kerumitan motif dan proses pengerjaannya.
Dikatakan juga keterampilan menenun memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Tanimbar. Tradisi menenun bahkan telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Dari mama sudah bisa tenun. Sesuai adat Tanimbar, kalau mau menikah harus sudah bisa tenun,” ungkapnya.
Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan tenun bukan sekadar pekerjaan atau produk ekonomi, tetapi bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat.
Karena itu, Lusi berharap generasi muda dapat terus mencintai dan melestarikan produk budaya Maluku. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman dinilai tidak boleh membuat generasi muda meninggalkan warisan budaya daerah.
“Kalau bukan generasi muda yang mencintai dan melestarikan produk Maluku sendiri, mungkin produk Maluku akan hilang seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi,” ungkapnya.
Lusi juga mengapresiasi pembinaan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku yang menurutnya turut mendorong Tenun Ikat Mawar melakukan inovasi, meningkatkan kualitas produk serta membuka akses pasar yang lebih luas.
Karena itu, ia berharap ke depan semakin banyak motif dari kabupaten/kota di Maluku yang dapat digali dan dikembangkan menjadi produk tenun maupun fesyen modern yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
Dengan mengangkat motif embal dari Tual, patung dari MBD, motif Tanimbar, Seram dengan motif Kakehen, Tahuri, Ukulele dari Kota Ambon dan berbagai kekayaan budaya lainnya, Tenun Ikat Mawar berupaya menjadikan kain tenun bukan sekadar produk kerajinan tetapi membantu ekonomi masyarakat di bumi raja – raja. (WM/yk)






