Ini Alasan RSUD Ishak Umarella Belum Ajukan Insentif Bulan Mei

Ambon, Wartamaluku.com – Bulan Juni 2020, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Ishak Umarella Tulehu menangani sebanyak 88 pasien Covid-19, yang 95 persen adalah pegawai.

“Ada juga keluarga dari pegawai yang positif Covid-19. 88 pasien itu dilayani oleh 35 orang tenaga kesehatan, yang terdiri dari dokter paru sebanyak 1 orang, dokter umum sebanyak 9 orang, perawat 20 orang, tenaga gizi sebanyak 2 orang, dan sanitarian sebanyak 3 orang. Ini yang kami usulkan insentifnya,” kata Direktur RSUD dr Ishak Umarella Tulehu, dr. Dwi Murti Nuryanti.

Penjelasan dr. Dwi Murti Nuryanti disampaikan saat rapat kerja bersama Sub Tim I Pengawasan Penanganan Covid-19 DPRD Provinsi Maluku, di ruang rapat paripurna, kantor DPRD Provinsi Maluku, Kamis (15/10/2020).

Namun menurutnya, pihaknya belum mengajukan usulan insentif, lantaran penyerapannya harus 60 persen terlebih dahulu, hingga bulan Mei. Pasalnya, pihaknya baru melayani pasien Covid-19 pada bulan Juni.

“Jadi, kami menunggu selesai dulu bulan Mei, lalu kemudian diluncurkan tahap kedua barulah kami mengajukan,” ujar dia.

Sementara itu, Pelaksana tugas sementara (Plt) Direktur RSUD dr. M. Haulussy, Rodrigo Limmon mengaku, pihaknya sudah mengajukan pembayaran insentif sejak bulan Maret.

“Karena kami mulai melayani pasien Covid-19 itu pada 16 Maret 2020, yakni pasien 01. Sedangkan UGD kita sudah disiagakan sejak 9 Maret sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Covid-19 yang kita buat,” ungkap dia.

Sehingga perhitungan Insentif untuk UGD akan dihitung sejak SK Covid-19 diterbitkan. Sementara untuk yang berada di ruang isolasi, akan dihitung sejak pasien Covid-19 dirawat.

Pada bulan Maret, pihaknya mengajukan insentif sebesar Rp 299 juta lebih yang akan dibayarkan kepada 4 orang dokter spesialis, 16 orang dokter umum, 4 orang tenaga sanitasi dan foto rontgen, perawat serta bidan sebanyak 38 orang,” ungkap Rodrigo.

Menurut dia, untuk bulan Mei sementara berproses, karena di RSUD Haulussy pihaknya memiliki beberapa ruangan, dengan cara perhitungan yang berbeda-beda.

“Jadi kita harus betul-betul melakukan pemetaan jumlah petugas yang terlibat, dan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat juga ikut diperhitungkan, dan mengacu pada juknis yang sudah ada,” ungkap Rodrigo. (WM).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *