Perkim Ambon Akui Kendala Lahan Jadi Penghambat Program Rumah Subsidi Kota Ambon

Ambon, Wartamaluku.com – Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Ambon, Ivonny Latuputty, menjelaskan perkembangan program pembangunan rumah subsidi di Kota Ambon yang hingga kini masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan dan harga lahan.

“Jadi dari total 3.000 unit rumah yang dialokasikan secara nasional untuk Provinsi Maluku. Kota Ambon mendapat kuota 470 unit” ungkapnya kepada wartawan di ruang kerjanya, selasa (09/12/2025).

Namun kata Latuputty, hingga saat ini baru 48 unit yang terealisasi dan telah masuk tahap kredit. Ia menyebut pencapaian tersebut masih rendah akibat persoalan harga lahan yang melonjak drastis.

Menurutnya, pada awal perencanaan, harga lahan masih berada pada kisaran Rp150 ribu per meter persegi, namun setelah pemilik mengetahui adanya program pembangunan rumah, harga naik menjadi Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per meter persegi. Kenaikan ini membuat proses pembangunan terhambat.

Selain itu, Latuputty menjelaskan bahwa sejumlah lahan yang sebelumnya telah disepakati mengalami perubahan harga saat akan dilakukan ikat kredit (akad) dengan bank, sehingga memperlambat proses. Meski demikian, pihaknya tetap melanjutkan tahapan sesuai mekanisme.

Ia memaparkan bahwa saat ini terdapat tiga lokasi yang sudah mengajukan izin pembangunan. Proses perizinan sempat lama di pertanahan karena harus melalui tahapan balik nama. Selain itu, 30 perusahaan telah mendaftar di Dinas PU untuk kesesuaian ruang.

Latuputty memastikan bahwa tiga lokasi tersebut dapat mulai dibangun tahun depan. “Saya bisa kasih garansi bahwa tahun depan sudah bisa start, itu bisa 300 sampai 350 unit,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa keterlambatan progres terjadi karena proses koordinasi baru dimulai setelah kesepakatan antara Gubernur Maluku dan Menteri terkait pada bulan Agustus. Akibatnya, pekerjaan baru benar-benar berjalan pada September hingga November, hanya dalam waktu tiga bulan.

Meski begitu, ia optimistis bahwa pada Januari–Februari 2026, pembangunan dapat dimulai secara signifikan. “Tahun depan kita sudah start sekitar 300 sampai 350 unit,” tegas Latuputty. (WM/tim).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *