Ambon,Wartamaluku.com – Genap satu tahun memimpin Ambon, Wali Kota Bodewin Wattimena dan Wakil Wali Kota Ely Toisuta periode 2025–2030 akhirnya memaparkan capaian 17 program prioritas serta berbagai terobosan pembangunan yang dilaksanakan selama tahun 2025 lalu.
Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers yang berlangsung di Ruang Vlisingen, Balai Kota Ambon, Jumat (21/02/2026).
Dalam pemaparannya, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menjelaskan bahwa 17 program prioritas tersebut merupakan turunan dari visi pembangunan kota yang tertuang dalam RPJMD, dijabarkan melalui empat misi utama dan difokuskan pada kebutuhan riil masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan 17 program prioritas tetap berpedoman pada RPJMD lima tahun. Tahun pertama menjadi fondasi untuk melanjutkan pembangunan empat tahun ke depan dengan evaluasi progres secara menyeluruh.
“Kami bekerja, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dan tidak anti kritik. Semua dilakukan dalam semangat membangun Ambon,” tegas Wattimena
Sementara itu, Wakil Wali Kota Ely Toisutta menjelaskan bahwa capaian satu tahun kepemimpinan telah dirasakan masyarakat, meski masih membutuhkan penyempurnaan.
“Capaian ini menjadi fondasi untuk melanjutkan pembangunan empat tahun ke depan. Kami mohon dukungan masyarakat dan media agar 17 program prioritas ini dapat dimaksimalkan demi kesejahteraan warga,” ujarnya.
Konferensi pers tersebut turut dihadiri Sekretaris Kota Robby Sapulette serta jajaran OPD Pemerintah Kota Ambon. Pemerintah optimistis, dengan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, pembangunan Kota Ambon akan semakin terarah, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam perjalanan kepemimpinan Walikota muncul salah satu ide yang kemudian menjadi program yakni pembangunan gedung kantor walikota yang baru.
“Pembangunan gedung kantor walikota yang baru ini bertujuan untuk menjawab permasalahan kondisi aktual kantor walikota saat ini, yang sudah tidak mampu menampung seluruh pegawai, serta kondisi fisik yang memprihatinkan akibat kebocoran di sana-sini,” ujarnya dengan nada prihatin.
Lebih lanjut, Walikota Ambon menegaskan bahwa gedung kantor walikota yang representatif akan menjadi simbol kota dan memenuhi kebutuhan estetika yang modern.
Selain itu, Pemerintah Kota Ambon juga berencana mengembangkan aset pemerintah kota seluas 7 hektar di kawasan Paso menjadi kawasan perkotaan modern melalui skema kerjasama Build, Operate, and Transfer (BOT) dengan investor.
“Kita sementara menjalin kerjasama dengan pihak investor yang telah melakukan tahapan perencanaan dan mendesain kawasan seluas 7 hektar tersebut menjadi konsep kota modern,” ungkapnya dengan antusias.
Menurut Walikota Ambon, kawasan perkotaan modern ini akan dibangun dengan bahan-bahan yang modern, pengelolaan limbah yang baik, serta menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan.
“Dalam skema kerjasama ini, investor akan membangun rusun ASN, apartemen, dan hotel di sana, kemudian mereka kelola. Pemerintah kota akan membuat perjanjian bagi hasil dengan investor, dan dalam jangka waktu tertentu, aset tersebut akan menjadi milik pemerintah kota,” jelasnya.
Bonusnya, lanjut Walikota Ambon, investor juga bertanggung jawab untuk membangun kantor walikota dan gedung perkantoran pemerintah kota di sana.
“Yang kita butuhkan hari ini adalah doa agar skema ini dapat berjalan dengan lancar,” harapnya.
Selain skema BOT, Pemerintah Kota Ambon juga akan melakukan kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPPU) untuk pembangunan klinik di kawasan Batu Gajah.
“Beberapa inovasi ini dilakukan oleh pemerintah kota di tengah keterbatasan anggaran. Kita tidak mungkin membangun sesuatu yang megah dengan kondisi keuangan saat ini, sehingga kita mencari aplikasi pembiayaan dari investor maupun badan usaha,” terangnya.
Menanggapi masalah banjir yang kerap terjadi di kawasan Air Batu, Walikota Ambon menjelaskan bahwa masalah ini sudah ada sejak lama dan bukan merupakan fenomena baru.
“Sistem drainase kita, di mana air dari gorong-gorong dibuang ke laut, tidak berfungsi optimal saat air laut pasang. Air tidak bisa keluar, sehingga menyebabkan banjir,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kota Ambon telah berkoordinasi dengan Balai Jalan Nasional untuk membangun kolam retensi.
“Kolam retensi ini berfungsi untuk menampung air saat air laut pasang, sehingga air dari kawasan Air Batu dapat dialirkan ke kolam retensi terlebih dahulu sebelum dibuang ke laut saat air surut,” paparnya.
Walikota Ambon berharap agar pembangunan kolam retensi ini dapat segera terealisasi, sehingga masalah banjir di kawasan Air Batu dapat teratasi.
“Kita punya lahan di belakang Pasar Lama yang bisa digunakan untuk pembangunan kolam retensi ini. Mudah-mudahan tahun ini ada anggaran untuk itu,” pungkasnya. (WM/yk)





